ATMPulsa.Com

Jumat, 23 September 2011

Tips Cara Membuat Blogger

LANGKAH PEMBUATAN BLOG

1. Cara Membuat blog
2. Promosi Blog yang pertama
3. Promosi Blog ke dua
4. Pasang Foto di Blog
5. Memaksimalkan kerja blog
6. Aksesoris Blog
7. Mendaftardi directory Technorati
8. Promosi Lewat Google Sitemap

Mendaftar Google Sitemap (8)

Seri Promosi Blog: Google Sitemap

Seperti yg pernah diterangkan sebelumnya di sini dan di sini, untuk membuat blog dan tulisan kita banyak dibaca dan dikunjungi orang adalah karena dua kemungkinan (a) karena inter-link antar blog, dan (b) karena orang datang melalui mesin pencari (search engine) terutama Google. Bagaimana supaya semua entry di blog kita ditangkap google? Gunakan Google Sitemaps.
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 8. Promosi Lewat Google Sitemap

Technorati: Direktori Blog, Tags & Bookmarks (7)

Seperti yg pernah dijelaskan sebelumnya, untuk promosi blog supaya lebih luas dikenal setidaknya anda harus mensubmit ke dua direktori blog terkenal: technorati.com dan feedburner.com.
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 7. Mendaftardi directory Technorati

menambah Aksesoris Blog (6)

Konon, blog itu berjenis kelamin perempuan. Dan, karena itu, perlu dihiasi dg aksesoris supaya selalu tampak cantik dan dapat menarik hati kaum blogger (yg ini berjenis laki-laki).
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 6. Aksesoris Blog

Membuat maksimal unjuk kerja Blog di Blogger (5)

Pada tulisan-tulisan lalu, sudah dijelaskan sejumlah tips untuk membuat blog kita menjadi google friendly, mudah ditangkap mesin pencari (search engine) google dan saudara-saudaranya. Tips berikut ini sebagian akan mengulang tulisan lalu secara lebih detail plus sejumlah tambahan bagaimana untuk memaksimalkan cara kerja blog kita. Saya urut dari awal.
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 5. Memaksimalkan kerja blog

Cara Memasang Foto di Blog (4)

Pasang Foto di Profile Blogger/Blogspot (4)
Banyak blogger yg nanya tentang bagaimana cara memasukkan fotonya yg ganteng dan cantik di profile blognya. Berbeda dg di blog gratis lain, di blogger/blogspot, prosesnya agak sedikit rumit bagi yg masih baru di dunia internet.
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 4. Pasang Foto di Blog

Cara Praktis Promosi Blog (3)

Setelah membuat blog dan memposting tulisan, curhat, puisi dan cerpen serta diari Anda, cobalah tiga hari kemudian cek blog Anda di http://technorati.com/search,
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 3. Promosi Blog ke dua

Cara Mempromosikan Blog (2)

Setelah selesai membuat blog, hal yg tak kalah pentingnya adalah empromosikan/memperkenalkan blog milik Anda pada dunia ramai. Apa gunanya membuat blog kalau isi curhat, puisi, cerpen, refleksi dan opini Anda yang diposting tidak dibaca orang, bukan?
Read More - Baca Selengkapnya Disini

Label: 2. Promosi Blog yang pertama

PEMBUATAN BLOG BARU

Karena banyak yg bertanya tentang apa itu blog, maka agar lebih praktis saya tuliskan saja di sini info dasar blog bagi pemula.
Membuat blog di blogger.com sangatlah mudah.
Sekarang saya akan tunjukan cara untuk membuat sebuah account baru di blogger.com, yang 100% gratis. Saya merekomendasikan anda untuk membuat blog di blogger.com karena program ini sangat didukung penuh oleh google, sehingga apabila kita membuat blog disini maka google akan cepat mengindeks blog kita. Alhasil blog kita akan muncul dihalaman pencari google.

LANGKAH KE-1 (GETTING STARTED)


Silahkan anda kunjungi website www2.blogger.com

LANGKAH KE-2 (CREATE AN ACCOUNT)


Setelah page terbuka, silahkan anda klik CREATE AN ACCOUNT setelah anda klik, maka akan muncul form untuk mengisikan nama dan password. Silahkan isi dan anda harus selalu ingat username dan password yang anda isikan.
Jangan lupa untuk menceklist Term of service agreement.
Kemudian klik tombol panah "Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-3

LANGKAH KE-3 (NAME YOUR BLOG)


Bagian ini sangat penting, karena nama dari blog anda nantinya akan menjadi sebuah keyword.
TIPS: agar blog anda mudah terindex oleh search engine(mesin pencari), maka alangkah lebih bagusnya jika anda membuat sebuah kesamaan antara addres dan name dari blog anda!
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-4

LANGKAH KE-4 (CHOOSE YOUR BLOG TEMLATE)


Sekarang anda haya tinggal selangkah lagi untuk mempunyai webblog buatan sendiri!!!
Disini anda ditujukan untuk memilih warna dan bentuk dari web anda. Silahkan pilih sesuai dengan topic dan selera anda.
OK jika anda sudah selesai memilih template, sekarang kita akan lanjut ke langkah berikutnya.
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-5

LANGKAH KE-5 (GENERATE YOUR BLOG)


Sekarang blogger akan menciptakan blog anda. Setelah blog selesai dibuat, maka di browser anda akan ada tulisan "Your Blog Has Beeb Created" Klik start Posting untuk untuk membuat artikel/tulisan pertamamu.
Sekarang Isikan Judul artikel kamu pada kolom tile, dan tulis isi dari artikelmu di bawahnya!

SELAMAT!! sekarang anda sudah mempunyai blog sendiri dan sudah bisa dilihat dari penjuru dunia manapun :)

Read More - Baca Selengkapnya Disini


http://wahyokku.blogspot.com/

PROSES PEMBUATAN MINYAK TEMPURUNG

PROSES PEMBUATAN

Pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa terdiri dari 2 tahapan, yaitu :
I. Proses pembuatan arang dari tempurung kelapa
II. Proses pembuatan arang aktif dari arang

Rendemen arang aktif dari tempurung kelapa sekitar 25% dan tar 6%

1. Pembuatan arang dari tempurung kelapa Bahan baku:
Kebutuhan tempurung kelapa 1 ton/hari. Tempurung kelapa harus yang sudah tua, kayunya keras, kadar air rendah, sehingga dalam proses pengarangan, pematangannya akan berlangsung baik dan merata. Jika kadar air tinggi berarti kelapa belum cukup tua, proses pengarangan akan berlangsung lebih lama.

2. Proses pembuatan arang aktif dari arang Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan cara "Destilasi kering" yaitu pembakaran tanpa adanya oksigen pada temperatur tinggi. Untuk kegiatan ini dibutuhkan prototype tungku aktivasi (alat destilasi) yang merupakan kisi-kisi tempat arang yang diaktifkan dengan kapasitas 250 kg arang. Proses aktivasi dilakukan hanya dengan mengontrol temperatur selama waktu tertentu.

Bahan : arang batok

Alat :
Nama alat

Jumlah

Kapasitas
· Tungku aktivasi *)
2 set

250 kg
· Gilingan
1 buah

-
· Ayakan 10 mesh
1 buah

-
· Pompa air
1 buah

-
· Menara air
1 buah

5 m3
· Kunci
2 set

-
· Thermocouple
2 buah

-
*) Tungku aktivasi (alat destilasi) lengkap dengan alat pendingin dan penampung destilat
Cara Kerja

Arang dimasukkan ke dalam tungku (aktivasi), kemudian ditutup rapat sampai tidak terdapat kebocoran.
Hubungan pipa pengeluaran hasil suling dari tungku aktivasi dengan pendingin yang ujungnya dicelupkan kedalam air. Tujuannya adalah agar oksigen tidak masuk kedalam tungku aktivasi sewaktu dilakukan pendinginan dan sekaligus menampung hasil sulingnya (destilat).
Pasang thermocouple untuk mengamati temperatur selama proses aktivasi berlangsung.
Air pendingin dialirkan, kemudian dilakukan pembakaran dengan menggunakan minyak tanah yang disemprotkan. Mula-mula dengan api kecil, kemudian api dibesarkan dengan jalan menambah bahan bakar dan menaikkan tekanan kompresor.
Lakukan pengamatan terhadap kerja dari tungku aktivasi dengan mengamati kenaikan temperatur. Temperatur selama proses sekitar 600°C apabila temperatur telah mencapai 600°C dan juga terlihat pada ujung pendingin tidak adanya tar (cairan berwarna coklat) yang keluar, ditandai dengan adanya gelembung air, maka pembakaran dipertahankan selama 3 jam. Setelah waktu tersebut proses telah selesai.
Api dimatikan dan tungku aktivasi (alat destilasi) dibiarkan masih tertutup dan sampai dingin. Setelah dingin tungku dibuka dan arang yang telah diaktifkan dikeluarkan. Lakukan penggilingan untuk mendapatkan partikel yang lebih halus, kemudian diayak dan dikemas.


Alat :
Nama alat

Jumlah

Kapasitas
- Drum minyak tanah 0,75 m
20 buah*)

-
- Sekop
4 buah

-
- Timbangan
1 buah

500 kg
- Roda dorong
1 buah

-
- Minyak tanah (bahan bakar)
10 buah

-
- Tabung/silinder minyak tanah
3 buah

-
*)10 tungku bekerja bergantian

Cara pembuatan/persiapan peralatan

Tungku pengarangan dibuat dari drum minyak tanah. Bagian drum yang tidak berlobang dipotong sekelilingnya dan dipisahkan. Tutup yang ada lubangnya ditambah dua lubang lagi dengan ukuran 2 x 2,5 inci.

Waktu pengarangan, drum diletakkan diatas dua buah pipa dengan bagian yang ada lubangnya berada dibawah. Sebelum pengarangan, pada lantai drum diberi bahan bakar seperti daun kering, jerami, sabut kelapa secara merata atau menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, dengan pertolongan alat brander.

Tempurung kelapa disusun tegak atau vertical didalam drum. Api dinyalakan, lubang-lubang udara dibiarkan terbuka.

Selama karbonisasi (pengarang) perlu diperhatikan asap yang terbentuk :
Jika asap tebal dan putih, berarti tempurung sedang mongering.
Jika asap tebal dan kuning, berarti pengkarbonan sedang berlangsung. Pada fase ini sebaiknya tungku ditutup dengan maksud agar oksigen pada ruang pengarangan serendah-rendahnya sehingga diperoleh hasil arang yang baik. Untuk pengaturan udara di dalam tungku bias diatur dengan melepaskan atau memasang pipa dibawah drum.
Jika asap semakin menipis dan berwarna biru, berarti pengarangan hampir selesai. Kemudian drum dibalik dan proses pembakaran selesai.
Tunggu samapi arang menjadi dingin. Setelah dingin arang bisa di bongkar.





http://www.dekindo.com/content/teknologi/Pembuatan%20Arang%20Aktif%20-%20Dari%20Tempurung%20Kelapa.htm


http://minyaktempurung.blogspot.com/2011/09/proses-pembuatan-minyak-tempurung.html

Macam macam Makanan Tradisional

Gambar makanan khas maluku utara :




Popeda Ulang-Ulang Karedok Kohu-Kohu- Maluku

Agak sulit untuk menemukan makanan yang benar-benar khas Ternate. Karena letak geografisnya yang lebih dekat ke Sulawesi Utara, sudah barang tentu makanan Ternate banyak dipengaruhi – dan sekaligus juga memengaruhi – makanan khas Sulawesi Utara. Tetapi, karena Ternate merupakan gugus kepulauan Maluku Utara, maka tentulah pula makanan khas Maluku mudah dijumpai di Ternate.

Hampir semua masakan Ternate melibatkan kenari, baik sebagai bumbu ulek, maupun dirajang kasar.

Salah satu masakan khas Ternate adalah gohu ikan. Penyebutannya harus lengkap: gohu ikan. Soalnya, kalau hanya disebut gohu, maka artinya adalah rujak pepaya muda yang juga populer di Sulawesi Utara. Gohu ikan khas Ternate dibuat dari ikan tuna mentah. Tidak heran bila banyak orang menyebutnya sebagai sashimi Ternate.

Ternyata, di daerah pesisir Sulawesi Utara – misalnya di Bitung – dapat pula dijumpai sajian seperti ini. Namanya hanya dibalik: ikan gohu. Barangkali kesegaran sajian inilah yang membuatnya menyandang nama gohu yang berarti rujak.

Umumnya, di Ternate, gohu ikan dibuat dari ikan tuna (yellowfin tuna = Thunnus albacares). Bila tuna sedang tidak musim, ikan cakalang (skipjack) juga dapat dipakai – sekalipun teksturnya tidak semulus tuna.

Daging tuna segar (baca: mentah!) dipotong kecil-kecil, dicuci, kemudian dilumuri dengan garam dan perasan lemon cui (semacam jeruk nipis yang harum dan dalamnya berwarna kuning-jingga), kemudian dicampur dengan rajangan kasar daun balakama (kemangi). Bawang merah dan cabe rawit (disebut rica gufu di Ternate) dirajang kasar, lalu ditumis dengan sedikit minyak kelapa. Minyak kelapa panas dengan bawang merah dan cabe rawit ini kemudian dituangkan ke potongan ikan tuna mentah. Kemudian ditaburi kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar.

Sudah terbayang rasanya? Top markotop!

Kalau Anda pernah ke Hawaii, kemungkinan besar Anda pernah ketemu sajian seperti ini. Bedanya, di sana tidak memakai cabe rawit maupun kacang tanah goreng. Di Hawaii kemanginya diganti dengan wakame alias rumput laut. Sajian ini terkenal di Hawaii dengan nama onopoke.

Saya juga pernah menemukan sajian yang sangat mirip dengan gohu ikan ini – minus cabe rawit – di General Santos City, Filipina Selatan. Di sana, sajian populer ini disebut kinilauw. Rupanya, masakan seperti gohu ikan Ternate ini telah menjadi ciri khas atau tradisi masyarakat-masyarakat kepulauan. Kinilauw hanya memakai tuna yang dipotong kubus, dilumuri dengan garam, dicampur dengan rajangan kasar bawang merah dan tomat, lalu dikucuri perasan jeruk nipis.

Gatang Kenari

Bicara tentang kuliner Ternate, kebanyakan orang akan langsung menyebut gatang kanari (ketam kenari = kepiting kenari). Di masa lalu, saya pernah mencicipi kepiting yang penampilannya mirip satwa purba ini. Sekarang, kepiting kenari sudah dicantumkan sebagai satwa yang dilindungi. Anehnya, masih terjadi ambiguitas untuk menegakkan aturan ini. Konon, demi pariwisata, beberapa restoran di Ternate mendapat izin khusus untuk menyajikan masakan dari kepiting kenari.

Herannya pula, ada dua Presiden Republik Indonesia (namanya saya catat untuk kepentingan pribadi!) yang sangat menyukai kepiting kenari. Para pejabat Pemerintah setempat pun dikabarkan sering membawa oleh-oleh kepiting kenari untuk atasan mereka di Jakarta – seolah-olah peraturan tentang kelestarian lingkungan tidak berlaku bagi para pejabat.

Harga kepiting kenari ini cukup mahal. Yang berukuran super (sekitar 2 kilogram bobot hidup), dihargai sekitar Rp 350 ribu. Bagi orang kaya, harga sedemikian tidak ada artinya. Maklum, satu kilo daging Wagyu harganya sekitar Rp 700 ribu. Artinya, harga kepiting kenari yang sedemikian “murah” tidak akan menyelamatkannya dari kepunahan.

Beberapa restoran sering menyatakan bahwa mereka menyediakan kepiting kenari hasil budidaya. Ini adalah cerita bohong. Kepiting kenari sulit ditangkar. Kini, kebanyakan kepiting kenari ditangkap di alam di Halmahera, lalu dijual ke beberapa restoran khusus di Ternate.

Kepiting kenari adalah satwa darat yang pintar memetik dan mengupas buah kelapa, serta menjadikannya makanan kegemaran mereka. Karena itulah kepiting kenari dianggap lebih gurih dan manis dagingnya dibanding kepiting biasa.

Popeda

Orang Ternate mempunyai tradisi makan besar setelah usai shalat Jumat. Biasanya, dari masjid orang bergegas pulang untuk berkumpul makan siang bersama keluarga. Sebagian lagi beramai-ramai mendatangi warung-warung makan bersama teman-teman.

Salah satu tradisi makan siang di hari Jumat adalah makan pupeda (di Maluku dan Papua disebut papeda) – yaitu sagu yang dimasak dengan air, bentuknya mirip seperti lem kanji. Pupeda umumnya disantap dengan ikan kuah soru. Yang dimasak untuk kuah soru biasanya adalah ikan asar (diasap dengan api gonofu alias sabut kelapa). Soru berarti asam. Kuahnya bening, dengan tone asam-pedas, serta aroma smokey dari ikan asar. Hmm, mengesankan.

Di belakang Pasar Gamalama, ada beberapa warung pupeda yang populer bagi warga Ternate. Di warung-warung itu, selain kuah soru, juga tersedia berbagai lauk-pauk yang disediakan di meja. Begitu juga pupeda dan kasbi (singkong rebus), ubi rebus, dan pisang rebus – semuanya disediakan di meja. Para tamu makan buffet style, dan membayar Rp 25 ribu per mulut — sekenyangnya.

Popeda dimakan dengan kuah soru. Sedangkan karbohidrat yang lain disantap dengan sayur lilin (sayur yang di Jakarta dikenal sebagai telur terubuk), ikan bakar, fofoki kuah santan, sayur garo (tumis kangkung dan bunga pepaya), dan lain-lain.


http://makanankhasmalukuutara.blogspot.com/

Menelusuri JEJAK SEJARAH Kekuasaan KESULTANAN TIDORE di Halmahera Selatan dan Tanah Papua

Logo kesultanan Tidore

SEJARAH SINGKAT TENTANG TIDORE

Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, tepatnya di sebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, pulau Tidore dikenal dengan nama; “Limau Duko” atau “Kie Duko”, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung “Kie Marijang”. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu : To ado re, artinya, ‘aku telah sampai’.

View of Tidore Island

(behind me, took from Ternate beach at Dufa-Dufa – near from my house)

Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Balibunga, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan di mana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.

Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar Sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansyur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.

Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Ala ud-din Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Toma Banga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saif ud-din (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.


The Sultan of Tidore (today)

(behind; Tidore & Maitara Islands)

EKSPANSI TIDORE KE TIMUR NUSANTARA



Selain Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore juga merupakan salah satu Kerajaan besar di jazirah Maluku Utara yang mengembangkan kekuasaannya terutama ke wilayah selatan pulau Halmahera dan kawasan Papua bagian barat. Sejak 600 tahun yang lalu Kerajaan ini telah mempunyai hubungan kekuasaan hingga sampai ke Irian Barat (Pesisir Tanah Papua) sebagai wilayah taklukannya. Waktu itu, yang memegang kendali kekuasaan pemerintahan di Kerajaan Tidore, ialah Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang ke 12.

Menurut (Almarhum) Sultan Zainal Abidin “Alting” Syah, Sultan Tidore yang ke 36, yang dinobatkan di Tidore pada tanggal 27 Perbruari 1947, yang bertepatan dengan tanggal 26 Rabiulawal 1366.H, bahwa Kerajaan Tidore terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Nyili Gam

a. Yade Soa-Sio se Sangadji se Gimelaha

b. Nyili Gamtumdi

c. Nyili Gamtufkange

d. Nyili Lofo-Lofo

2. Nyili Papua (Nyili Gulu-Gulu).

a. Kolano Ngaruha (Raja Ampat)

b. Papua Gam Sio

c. Mavor Soa Raha

(This statement allegedly made by Zainal Abidin Syah)

Dalam catatan tersebut dengan sendirinya bukanlah “Irian Barat” yang disebutkan, melainkan “Papua“. Selain dari Papua, juga pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Gebe, pulau Patani, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar, Sorong, Gorong, Maba, Weda, juga termasuk dibawah naungan Kerajaan Tidore.

Disebutkan “Under the Dutch rule, all legal documents were first sent to the “The Kingdom of Tidore for oka before being used in the above mentioned provinces, which were once the property of the Kingdom of Tidore._Tombuku and Banggai were under the rule of the Kingdom of Ternate before Dutch rule”.

Di bawah ini adalah salinan catatan sejarahnya dalam “Bahasa Tidore” ketika Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang pernah mengadakan expedisi ke pulau Halmahera bagian selatan sampai di “Papua” dan pulau-pulau sekitarnya.

“Madero toma jaman yuke ia gena e jaman “Jou Kolano Mansyur” Jou Lamo yangu moju giraa2 maga i tigee Jou Kolano una Mantri una moi2 lantas wocatu idin te ona: Ni Kolano Jou Ngori ri nyinga magaro ngori totiya gam enareni, tiya Mantri moi2 yo holila se yojaga toma aman se dame madoya.


Ngori totagi tosari daerah ngone majoma karena daerah ngone enareni yokene foli, kembolau gira toma saat enarige ona jou Mantri moi-moi yo marimoi idin enarige, lantas Jou Kolano una rigee wotagi wopane oti isa toma Haleyora (Halmahera) wodae toma rimoi maronga Sisimaake wouci kagee lalu wotagi ine toma Akelamo lantas kagee wotomake jarita yowaje coba Jou Kolano mau hoda ngolo madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga karena kagee seba foloi.
Lantas gaitigee Jou Kolano wowako sewolololi ino toma lolinga majiko wotagi ia toma Bobaneigo lantas gaitigee womaku tomake se Jou Kolano Ternate, “Jou Kolano Komala” Gira Jou Kolano ona ngamalofo rigee yo maku yamu rai se yo maku sawera sewowaje, Jou Kolano Ternate tagi turus ia toma Kao, Jou Kolano Tidore woterus toma Lolobata, Bicoli, Maba se Patani.

Lantas kagee Jou Kolano wolahi Kapita2 kagee toma Maba, Buli, Bicoli se Patani ona yomote una terus toma Gebe la supaya yohoda kiye mega yoru-ruru, yo bapo ino uwa, toma Gebe madulu se I ronga “Papua”.
Gira2 tigee ona Kapita moi2 yomote Jou Kolano ine toma Gebe lalu turus toma Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol (Misol), terus ine toma Papua Gam Sio, se Mavor Soa-Raha. Raisi karehe Jou Kolano se ona Kapita ona rigee yowako rora tulu toma Salawati, wotia Kapita hamoi se woangkat una wodadi Kolano kagee, hamoi yali toma Waigeo, hamoi yali toma Waigama, se hamoi yali toma Masowol (Misol). Kapita-kapita ngaruha onarigee Jou Kolano woangkat ona yodai Kolano teuna ipai maalu gena e mangale Kolano Ona Ngaruha rigee ngapala Kapita Patani, ona ngaruha yoparentah yodo toma Papua Gam Sio se Mavor Soa Raha”.



Terjemahan (Admin) :_

“Bahwa pada masa dahulu kala, masa kekuasaan Sultan Tidore yang bernama “Mansyur“, dimana daerah kekuasaannya belum/tidak luas, maka beliau berfikir, bahwa wilayah Kerajaan di Tidore pada masa itu memang terlalu kecil yakni hanya di pulau Tidore. Beliau menetapkan untuk keluar mencari daerah tambahan. Para Menteri beliau berhadap dan titah beliau, bahwa atas maunya sendiri bertolak nanti dari Tidore untuk maksud yang utama dan kepada Menteri2 beliau tinggalkan kerajaannya untuk dijalankan oleh para Menteri, menjaga agar supaya berada aman dan damai. Menteri bersatu dan menerima baik yang dititahkan.
Lalu dengan sebuah perahu biduk beliau beserta beberapa pengawal dan pengikutnya bertolak dari pulau Tidore ke Halmahera tengah dan selatan, tiba pada sebuah tempat namanya Sismaake. Di sana Beliau turun dan berjalan kaki ke Akelamo. Di Akelamo beliau mendapat keterangan/ceritera dan mendapat saran dari orang di Akelamo, katanya jika beliau hendak melihat lautan sebelah (lautan di teluk Kao Halmahera), maka sebaiknya beliau melewati jalan di Dodinga, karena di Dodinga sangat dekat dengan lautan sebelah. Sri Sultan Mansyur kembali dari Akelamo menuju Dodinga dan dari Dodinga berjalan kaki ke Bobaneigo.
Di Bobaneigo bertemu dengan Sri Sultan Ternate Bernama “Komala“, (Admin; mungkin yang dimaksud adalah Sultan Ternate yang ke XVI). Kedua Sultan tersebut kemudian saling bertanya dan akhirnya menyepakati untuk membagi pulau Halmahera menjadi dua wilayah kekuasaannya masing- masing, yaitu Sultan Ternate berkuasa dari Dodinga ke utara sedangkan Sultan Tidore membatasi wilayah kekuasaannya dari Dodinga ke selatan.

Catatan Admin ; Pada kenyataannya hingga saat ini pulau Halmahera tepatnya di daerah (Dodinga) merupakan batas wilayah kultur antara kedua Kerajaan ini, yang saat ini dijadikan dasar oleh Pemerintah untuk menetapkan batas wilayah Kabupaten sejak jaman Indonesia merdeka).



Kemudian selanjutnya Sultan Mansyur berkelana menuju daerah Lolobata, Bicoli, Maba, Buli dan Pulau Patani. Di sana beliau minta supaya Kapitan2 dari Maba, Buli, Bicoli dan Patani turut dengan beliau ke pulau Gebe untuk menyelidiki pulau2 apa yang terapung di belakang pulau Gebe, antara pulau yang satu dengan lain (tidak berdekatan): “Papua”.
Pada saat itu juga Kapitan2 tersebut turut dengan beliau ke Gebe, terus ke Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol, terus ke daerah yang disebutkan: Papua Gam Sio (Negeri Sembilan di tanah Papua) dan Mavor Soa Raha Empat Soa/Klan di Mavor). Sesudah itu Sri Sultan Mansyur dan Kapitan2nya kembali, singgah di Salawati, Waigeo, Waigama dan Misowol, dan disana beliau mengangkat Kapita2 berempat orang itu menjadi Raja setempat yang bergelar seperti dirinya (;Kolano), mereka berempat disebutkan “Raja Empat” yang masih dibawah naungan payung kekuasaan Sri Sultan Mansyur Sang Penguasa dari Tidore, dengan pengertian bahwa mereka berempat menjadi Raja itu harus mendengar perintah dari Sultan Tidore. Kekuasaan ke-empat Raja itu sampai di daerah yang disekitarnya yang kemudian disebut Papua Gam Sio dan dearah Mavor Soa-Raha”._

Catatan Admin ; Sumber / referensi tersebut di atas bila dikaji dengan menggunakan Analisa Historiografi, maka masih terdapat beberapa kelemahan, diantaranya :

1). Tidak jelaskan tahun berapa yang merupakan “tempos” atau kurun waktu kejadian dari apa yang diuraikan dalam sumber ini,

2). Tokoh sentral yang dijelaskan dalam sumber ini adalah “Sultan Mansyur”, namun yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah Sultan Mansyur yang mana?!, karena dari berbagai referensi yang saya telusuri dan hunting selama ini, bahwa terdapat 4 (empat) Sultan Tidore yang menggunakan nama “Mansyur” sebagai nama mereka, antara lain; pertama : Sultan Mansyur yang memerintah (tahun 1512–1526), kedua : Sultan Kie Mansyur yang memerintah (tahun 1547–1569), ketiga : Sultan Abdul Falal al-Mansyur yang memerintah (tahun 1700–1708), dan keempat : Sultan Akhmad-ul Mansyur yang memerintah (tahun 1822–1856). Terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa beberapa daerah diluar pulau Tidore, mulai dari Papua barat hingga pulau-pulau di selatan Pasifik pernah menjadi wilayah kerajaan ini.



Sebagai pembanding dalam argument saya pada catatan tersebut di atas, berikut ini adalah nama-nama Kolano / Sultan dan tahun pemerintahannya pernah menjadi penguasa di Kerajaan Tidore yang saya olah dan susun dari beberapa sumber baik lokal maupun sumber asing yang menjadi referensi kajian saya, adalah sebagai berikut :

1. (……… – ………) Kolano Sah Jati

2. (……… – ………) Kolano Bosamuangi

3. (……… – ………) Kolano Subu

4. (……… – ………) Kolano Balibunga

5. (……… – ………) Kolano Duku Madoya

6. (1317 – ………) Kolano Kie Matiti

7. (……… – ………) Kolano Sele

8. (……… – ………) Kolano Metagena

9. (1334 – 1372) Kolano Nur ud-din

10. (1373 – …?…) Kolano Hasan Syah

11. (1495 – 1512) Sultan Ciriliati alias Jamal ud-din

12. (1512 – 1526) Sultan Mansyur

13. (1529 – 1547) Sultan Amir ud-din Iskandar Zulkarnain

14. (1547 – 1569) Sultan Kie Mansyur

15. (1569 – 1586) Sultan Miri Tadu Iskandar Sani Amir ul-Muzlimi, kawin dengan Boki Randan Gagalo, seorang puteri dari Sultan Babu’llah Datu Syah ibni Sultan Khair ul-Jamil.

16. (1586 – 1599) Sultan Gapi Maguna alias Sultan Zainal Abidin Siraj ud-din alias Kaicil Siraj ul-Arafin, yang kawin dengan Boki Filola pada tahun 1585 seorang puteri dari sultan Ternate Sultan Said ud-din Barakat Syah ibni al-Marhum Sultan Babullah Datu Syah

17. (1599 – 1626) Sultan Mole Majimu alias Molemgini Jamal ud-din alias ‘Ala ud-din Syah

18. (1626 – 1633) Sultan Ngora Malamo alias Sultan ‘Ala ud-din ibni Sultan Jamal ud-din

19. (1633 – 1653) Sultan Gorontalo alias Kaicil Sehe

20. (1653 – 1657) Sultan Magiau alias Sultan Said ud-din ibni Sultan ‘Ala ud-din alias Kaicil Saidi

21. (1657 – 1689) Sultan Syaif ud-din alias Kaicili Golofino

22. (1689 – 1700) Sultan Hamzah Fakhr ud-din ibni al-Marhum Sultan Syaif ud-din

23. (1700 – 1708) Sultan Abul Falal al-Mansyur

24. (1708 – 1728) Sultan Hasan ud-din

25. (1728 – 1756) Sultan Amir Muhid-din Bi-fallil-ajij alias Kaicil Bisalalihi

26. (1756 – 1780) Sultan Jamal ud-din

27. (1780 – 1784) Sultan Patra Alam

28. (1784 – 1797) Sultan Kamal ud-din

29. (1797 – 1805) Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan alias Jou Barakati

30. (1805 – 1810) Sultan Mohammad Zain al-Abidin

31. (1810 – 1822) Sultan Mohammad Tahir (Wafat : 17 November 1821)

32. (1822 – 1856) Sultan Akhmad-ul Mansyur (Dinobatkan 19 April 1822, wafat 11 Juli 1856)

33. (1857 – 1865) Sultan Akhmad Safi ud-din alias Khalifat ul-Mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore alias Jou Kota (Dinobatkan April 1857)

34. (1867 – 1894) Sultan Johar Alam (Dinobatkan Agustus 1867)

35. (1894 – 1905) Sultan Akhmad Kawi ud-din Alting alias Kaicil Syahjoan, (Dinobatkan Juli 1849) Pada masa ini Keraton Tidore dibumihanguskan sebagai sikap protes terhadap kebijakan pihak Belanda yang merugikan Tidore)

36. (1947 – …….) Sultan Zain al-Abidin “Alting” Syah (Dinobatkan di Tidore pada tgl. 27 Perbruari 1947, bertepatan dengan tgl. 26 Rabiulawal 1366-H)

37. (Sekarang) Sultan Djafar “Dano Yunus” Syah, (Dinobatkan ————- hingga sekarang)

The Sultan with the Crown Royal of Tidore (Tolu Kolano)

APAKAH EKSPANSI SULTAN NUKU SAMPAI KE KAWASAN KEPULAUAN PASIFIK BAGIAN SELATAN….?



Kesultanan Tidore mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan yang oleh kawula Tidore dikenal dengan sebutan Jou Barakati. Pada masa kekuasaannya 1797 – 1805), wilayah Kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Tanah Papua.

Wilayah sekitar pulau Tidore yang menjadi bagian wilayahnya adalah Papua, gugusan pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Seram Timur. Menurut beberapa tulisan di berbagai situs internet, dituliskan bahwa kekuasaan Tidore sampai ke beberapa kepulauan di pasifik selatan, diantaranya; Mikronesia, Melanesia, kepulauan Solomon, kepulauan Marianas, kepulauan Marshal, Ngulu, Fiji, Vanuatu dan kepulauan Kapita Gamrange. Disebutkan pula bahwa hingga hari ini beberapa pulau atau kota masih menggunakan identitas nama daerah dengan embel-embel Nuku, antara lain; kepulauan Nuku Lae-lae, Nuku Alova, Nuku Fetau, Nuku Haifa, Nuku Maboro, Nuku Wange, Nuku Nau, Nuku Oro dan Nuku Nono.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas tidaklah mudah. Perlu penelitian tersendiri. Hal ini juga dibantah oleh salah satu Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastera Universitas Khairun Ternate yang tidak mau menyebutkan namanya. Lebih lanjut dikatakan bahwa “agak mustahil” kekuasaan Sultan Nuku bisa sampai ke ke kawasan pasific.

Alasan bantahan terhadap hal ini didasarkan pada argumennya bahwa :

1. Pasific Selatan terlalu jauh dari Tidore.

2. Tidak adanya pengakuan dari penduduk setempat di Pasific Selatan bahwa mereka mempunyai kaitan sejarah dengan Sultan Nuku.

3. Tidak ada bukti-bukti dan catatan tertulis tentang kapan dan bagaimana Sultan Nuku data ng dan memberi nama pulau-pulau tersebut.

4. Masyarakat Pasific Selatan saat ini mayoritas beragama Kristen. Jika memang kekuasaan Sultan Tidore telah sampai ke sana tentu ada jejak-jejak Islam ditemukan di sana.

5. Sultan Nuku hidup ketika penjajah Eropa sudah berdatangan ke wilayah Timur dan wilayah Pasific Selatan diduduki oleh mereka.

6. Masa hidup Sultan Nuku lebih banyak digunakan untuk berjuang melawan Belanda.

7. Adanya nama Nuku di depan nama kota atau tempat di sana bukanlah bukti yang bermakna kuat karena bisa saja kata “Nuku” di sana mempunyai arti yang berbeda.

Argumentasi ini sangat beralasan, karena kalo kita menjelajahi beberapa situs internet, di Wikipedia misalnya, tidak ditemukan catatan sejarah tempat-tempat dimaksud yang menjelaskan bahwa mereka mempunyai kaitan sejarah dengan Kesultanan Tidore dengan Sultan Nuku-nya. Juga tidak ditemukan jejak-jejak hadirnya orang-orang Tidore di daerah ini.

Walaupun demikian, terlepas dari “perdebatan” permasalahan ini, fakta sejarah mencatat bahwa di masa Sultan Nuku yang hanya berkuasa sekitar delapan tahun inilah, Kerajaan Tidore mencapai masa kegemilangan dan menjadi kerajaan besar yang wilayahnya paling luas dan disegani di seluruh kawasan itu, termasuk oleh kolonial Eropa.

STRUKTUR PEMERINTAHAN DI KERAJAAN TIDORE



Ketika Tidore mencapai masa kejayaan di era Sultan Nuku tersebut, sistem pemerintahan di Tidore telah ditata dengan baik. Saat itu, Sultan (Kolano) dibantu oleh suatu Dewan Wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syaraa, adat se Nakudi. Dewan ini dipimpin oleh Sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (Perdana Menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato Pehak Raha (Bobato empat pihak) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir.

Sistem dan Struktur Pemerintahan yang dijalankan di Kerajaan Tidore pada masa lampau cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan Sultan. Menariknya, di keempat Kerajaan di Jazirah Maluku Utara yang dikenal dengan “MOLOKU KIE RAHA” yaitu; kerajaan Jailolo, kerajaan Bacan, kerajaan Ternate dan termasuk di kerajaan Tidore tidak mengenal sistem putra mahkota sebagaimana kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Nusantara. Seleksi seseorang untuk menjadi Sultan dilakukan melalui mekanisme seleksi calon-calon yang diajukan dari pihak Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha), yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama-nama ini, kemudian dipilih satu di antaranya untuk menjadi Sultan Tidore.

Selanjutnya mengenai Struktur Pemerintahan Kerajaan Tidore sejak Sultan Tidore yang pertama yaitu Sultan Syah Jati alias Mohammad Nakel yang kemudian mengalami perobahan2 mengenai bentuknya pemerintahan di jaman Sultan Cirlaliati,–beberapa sumber menyebutkan Sultan ini yang pertama kali mulai masuk Islam–, dan di jaman Sultan Syafi ud-din dengan gelarannya Khalifat ul-mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore, dapat diuraikan sebagai berikut : KOLANO SEI BOBATO PEHAK RAHA, artinya : Sultan dan 4 Kementeriannya dengan pegawai, yang terdiri dari :

1. Pehak Bobato, Urusan Pemerintahan dikepalai oleh Jogugu. Anggota2nya :

a. Hukum2

b. Sangadji2

c. Gimalaha2

d. Fomanyira2

2. Pehak Kompania, Urusan Pertahanan dikepalai oleh Kapita2/Mayor :

a. Leitenan2

b. Alfiris2

c. Jodati2

d. Serjanti2

e. Kapita Kie

f. Jou Mayor, dan

g. Kapita Ngofa

3. Pehak Jurutulis, Urusan Tata-Usaha dikepalai oleh Tullamo (Sekneg). Anggota2nya :

a. Jurutulis Loaloa

b. Beberapa Menteri Dalam, yaitu:

1. Sadaha, (Kepala Rumah Tangga Kerajaan)

2. Sowohi Kiye, (Protokoler Kerajaan Bidang Kerohanian),

3. Sowohi Cina, (Protokoler Khusus Urusan Orang Cina),

4. Sahabandar, (Urusan Administrasi Pelayaran).

5. Fomanyira Ngare, (Public Relation Kerajaan)

4. Pehak Lebee, urusan Agama/Syari’ah dikepalai oleh seorang Kadhi. Anggota2nya :

a. Imam2.

b. Khotib2.

c. Modin2.

* Selain struktur tersebut di atas masih terdapat Jabatan lain yang membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Surang Oli yang membidangi urusan propaganda.

PEJABAT DALAM KEDUDUKAN MENURUT TINGKAT JABATAN

I. Bobato Yade Soa2 dan Sangadji se Gimalaha di pusat, terdiri dari :

1. Jogugu / Jojau

2. Kapita Laut, (Panglima Perang)

3. Hukum Yade, (Urusan Luar Kerajaan)

4. Hukum Soa2, (Uurusan Dalam Kerajaan)

5. Bobato Ngofa, (Urusan Kabinet)

6. Gimalaha Marsaoly

7. Gimalaha Folaraha

8. Sangadji Moti

9. Gimalaha Sibu

10. Gimalaha Matagena

11. Gimalaha Sibuamabelo (Sambelo)

12. Gimalaha Togubu

13. Gimalaha Kalaodi

14. Gimalaha Soa Konora

15. Gimalaha Simobe

16. Gimalaha Doyado

17. Gimalaha Samafu

18. Gimalaha Maliga

19. Fomanyira Failuku

20. Fomanyira Tomacala

21. Fomanyira Yaba

22. Fomanyira Sosale

23. Fomanyira Jawa

24. Fomanyira Cobo

25. Fomanyira Dikitobo

26. Fomanyira Tasuma

27. Fomanyira Tomadou

28. Fomanyira Rum

29. Sngagaji Laisa Mareku

30. Sangadji Laho Mareku

31. Gimalaha Tomalouw

32. Gimalaha Tongowai

33. Gimalaha Mare

34. Gimalaha Tuguiha

35. Gimalaha Tomaidi

36. Gimalaha Tahisa

37. Gimalaha Tomanyili

38. Gimalaha Gamtohe

39. Gimalaha Dokiri

40. Gimalaha Banawa

IIa. Bobato Nyili Gamtumdi, terdiri dari :

1. Gimalaha Seli

2. Fomanyira Tambula

3. Fomanyiira Taran

4. Fomanyira Tomawange

5. Tomanyira Tofoju

6. Fomanyira Gurabati

IIb. Bobato Nyili Gamtufkange, terdiri dari :

1. Gimalaha Tomoyau

2. Fomanyira Tambula

3. Fomanyira Ngosi

4. Fomanyira Tobaru

5. Fomanyira Tunguwai

6. Fomanyira Goto

7. Fomanyira Sautu

8. Fomanyira Tomagoba

IIc. Nyili Lofo2, terdiri dari :

1. Sangadji Maba

2. Sangadji Soa Gimalaha

3. Sangadji Bicoli

4. Himalaha Wayamli

5. Sangadji Patani

6. Gimalaha Kipay

7. Sangadji Kacepi

8. Gimalaha Sanafi

9 Sangadji Weda

10 Gimalaha Soa Cina

11. Sangadji Somola

12. Gimalaha Somola, (1 s/d 12 disebutkan Gamrange,–Tiga Negeri–)

13. Gimalaha Akelamo

14. Gimalaha Payahe

15. Gimalaha Wama

16. Gimalaha Akemayora

17. Gimalaha Tafaga

18. Fomanyira Tauno

19. Fomanyira Loko

20 Fomanyira Taba

21. Kalaodi Maidi, (13 s/d 21 distrik Oba)

IId. Bobato Nyili Gulu2 (Papua), terdi i dari :

1. Kolano Waigeo

2. Kolano Salawati

3. Kolano Misowol, (Lilintinta).

4. Kolano Waigama, (Miyan). (1 s/d 4=Raja Ampat).

5. Sangadji Umka

6. Gimalaha Usboa

7. Sangadji Barey

8. Sangadji Beser

9. Gimalaha Kafdarun

10. Sangadji Wakeri

11. Gimalaha Warijo

12. Sangadji Mar

13. Gimalaha Warasay, (5 s/d 13 -Papua Gam Sio – (9 Soa).

14. Sangadji Rumbarpon

15. Sangadji Rummansar

16. Sangadji Anggaradifu

17. Sangadji Waropon, (14 s/d=Mavor Soa-Raha (4 Soa).

Catatan Akhir dari Admin ;

1. Terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa beberapa daerah diluar pulau Tidore, mulai dari Papua barat hingga pulau-pulau di selatan Pasifik pernah menjadi wilayah kerajaan ini. Presiden RI pertama Sukarno semula ingin memasukan seluruh wilayah kekuasaan kerajaan tidore ini menjadi bagian dari NKRI, namun pada akhirnya, diputuskan bahwa hanya bekas jajahan kerajan Belanda saja yang menjadi wilayah RI, sehingga Malaysia, Singapura dan Timor Leste tidak dimasukan sebagai wilayah NKRI. Sukarno pernah berkata; “……..Tanpa Tidore, tak akan ada lagu; Dari Sabang sampai Merauke……..”

2. Terakhir……, kajian historis ini, bila dipahami, diharapkan akan menjadi motivasi bagi para para pemimpin lokal di daerah ini untuk menata masa depan Tidore dan sekitarnya yang lebih baik. Kalau ditanya mengapa saya berargumen demikian? Maka jawaban saya adalah ; Karena para pemimpin masa lampau di daerah ini yang yang berpola pikir ratusan tahun yang lalu saja mampu dan bisa menjalankan birokrasi yang baik menata pemerintahan daerah, kenapa jaman kita saat ini tidak mampu? Pilkada saja berantam melulu, barangkali yang ada di pikiran mereka hanya kekuasaan dan kekayaan tanpa mikirkan hak dan kepentingan rakyat yang dipimpinnya…. Wallahu wa’lam…….!

====================================================================
“Kailupa toma Lolinga, Kero2 toma joronga,

Lupa uwa si tosoninga, Tero2 Soa-Sio ironga…”


http://ternate.wordpress.com/2008/12/15/menelusuri-jejak-sejarah-kekuasaan-kesultanan-tidore-di-halmahera-selatan-papua-kepulauan-pacific-selatan-2/

Menelusuri Asal-Usul dan Jejak Sejarah Orang Ternate

GEOLOGIS

Pada zaman Pleistochen, daratan pulau Ternate masih merupakan satu daratan dengan pulau-pulau seperti; Morotai, Halmahera, Hiri, Maitara, Tidore, Mare, Moti, Makian, Kayoa, Bacan dan sebagainya yang terletak pada rankaian gunung berapi Zone Maluku Utara. Deretan pulau-pulau ini berada di sepanjang pantai barat pulau Halmahera di Propinsi Maluku Utara.

Perubahan alam yang terjadi selama ratusan-ribu tahun dan pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil di sepanjang “Jazirah tuil Jabal Mulku“, (Istilah yang sering dipergunakan oleh Buya Hamka). Halmahera adalah merupakan Pulau Induk dari di kawasan ini, yang menjadi dataran tertua, selain pulau Seram di Maluku Tengah. (sumber; B. Soelarto, Sekelumit Monografi Daerah Ternate, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Depdikbud, Jakarta).



Dilihat dari sudut geologis, seperti disinggung di atas, pulau Ternate merupakan salah satu dari deretan pulau yang memiliki gunung berapi, dari barisan garis : ”strato vulkano active at south pacific” yang melintang di kawasan Asia timur ke Asia tenggara, dari utara ke selatan. Salah satu yang masih aktif di kepulauan Maluku Utara adalah gunung “Gamalama” di pulau Ternate dengan ketinggian 1.730 m. (bangsa Portugis menyebut dengan; Nostra Senora del Rozario).

Erupsi dari letusan gunung berapi Gamalama yang paling hebat pernah terjadi pada tahun 1608, 1635, 1653, 1840 dan 1862. Letusan terhebat yang tercatat terjadi pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada tanggal 10 Maret 1737 yang bertepatan dengan 22 Dzulkaidah 1149.H yang mengakibatkan aliran lahar dari puncak hingga mencapai laut yang dikenal sekarang dengan “Batu Angus”. (sumber; F.S.A. de Clerq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie van Ternate, Leiden, 1890).


Dalam jangka waktu kurang 400 tahun lebih (1538 – 1962) telah terjadi 1164 kali erupsi larva. Letusan yang mengakibatkan kepanikan dan dan pengungsian masyarakat Ternate moderen adalah pertama kali sejak tahun 1962, yaitu pada tanggal 4 September 1980 yang dialami sendiri oleh penulis yang ketika itu masih sebagai pelajar kelas 5 di salah satu Sekolah Dasar di pulau Ternate.

GEOGRAFIS

Secara astronomis, pulau Ternate terletak pada 127,17 Bujur Timur – 127,23 Bujur Timur dan 0,44 Bujur Timur – 0,51 Bujur Timur. Secara Topografis Pulau Ternate berbentuk bulat kerucut (strato volcano) yang luas diagonal pulau dari arah utara ke selatan, sepanjang 13 km dan dari arah barat ke timur sepanjang 11 km, dengan panjang keliling pulau adalah 55 km , yang terdiri dari dataran rendah dan lereng. Ciri topografis sebahagian besar datarannya adalah wilayah bergunung dan daerah berbukit, terdiri dari pulau vulkanis dan pulau karang dengan kondisi jenis tanah :
• Rogusal : pulau Ternate, pulau Hiri dan pulau Moti
• Rensikal : pulau Mayau, pulau Tifure, pulau Makka, pulau Mano dan pulau Gurida

Secara Yuridis, berdasarkan Undang-Undang No.11 tahun 1999, tanggal 27 April 1999 status Kota Ternate dari Kota Administratif (Kotip) ditingkatkan dan menjadi Kotamadya. Luas seluruh wilayah Kotamadya Ternate adalah 5.681,30 Km2, terdiri dari;

- Wilayah Perairan : 5.457,55 Km2
- Wilayah Daratan : 133,74 Km2, yang mencakup 8 buah pulau, yaitu :
• Pulau Ternate : 92,12 Km2
• Pulau Hiri : 7,31 Km2
• Pulau Moti : 17,72 Km2
• Pulau Mayau : 8,5 Km2
• Pulau Tifure : 7 Km2
• Pulau Makka : 0,5 Km2, tidak berpenghuni
• Pulau Mano : 0,05 Km2, tidak berpenghuni
• Pulau Gurida : 0,55 Km2, tidak berpenghuni

- Jarak antara pulau
• Ternate – Hiri : 1,5 mil laut
• Ternate – Moti : 11 mil laut
• Ternate – Mayau : 90 mil laut
• Ternate – Tifure : 106 mil laut
• Ternate – Makka : 1,6 mil laut
• Ternate – Mano : 1,6 mil laut
• Ternate – Gurida : 106,1 mil laut

Pulau-pulau dalam wilayah Kotamadya Ternate terletak dalam lingkup kawasan pantai barat Halmahera, melalui kepulauan Filipina, Sangihe Talaud dan Minahasa yang dilingkupi lengkung Sulawsi bagian utara. Kotamadya Ternate berbatasan dengan :
Sebelah utara dengan Samudera Pasifik dan perairan Filipina
• Sebelah selatan dan barat dengan Laut Maluku
• Sebelah timur dengan pantai barat Halmahera

Secara Ekonomis, Kedudukan kota Ternate adalah sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan yang sangat strategis dan penting sekali di kawasan ini. Di Kota Ternate terdapat Pelabuhan Samudera “Ahmad Yani” dan Bandar Udara “Babullah”. Kota Ternate itu sendiri berlokasi di pesisir timur pulau Ternate menghadap pulau Halmahera posisi ini sangat potensial. Kedudukan yang demikian ini menyebabkan kota Ternate memiliki peranan yang sangat penting dalam ekonomi perdagangan lintas Halmahera.

Selain itu, letak pulau Ternate adalah dekat dengan kota Manado ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Posisi strategis yang berhadapan dengan kawasan Dodinga, sebuah persimpangan jalan di pulau Halmahera yang menyebabkan kota ini berkembang dalam lajur perdagangan di daerah Maluku Utara.

GENEALOGIS

Sebagaimana dipaparkan di atas, ada pendapat yang mengatakan bahwa pada zaman pleistochen, setelah dataran Morotai, Ternate, Tidore, Makian, Bacan, Kayoa dan sebagainya terlepas dengan dataran Halmahera dan membentuk pulau-pulau kecil, sebagaimana adanya sekarang, maka telah terjadi pula migrasi penduduk pada zaman itu yang semula berdiam di dataran pedalaman ke kawasan pantai. Hal itu dilakukan untuk menghindari bencana alam yang diakibatkan oleh gerakan gunung berapi dan pergeseran kerak kulit bumi yang berlangsung secara evolusi.

Pendapat ini dilandasi argumentasi antropologi budaya, yaitu bahwa antara penduduk pedalaman dan masyarakat di pulau-pulau, memiliki adat istiadat yang hampir sama. Perkiraan lain adalah bahwa penduduk pribumi masyarakat di Halmahera dan Maluku Utara pada umumnya masih satu rumpun dengan bangsa Proto Melayu dan Netro Melayu yang sampai kini masih dapat ditelusuri jejak asal usulnya. Tapi yang jelas, Ternate dari sepanjang Halmahera, yang membentang dari utara hingga ke selatan tidak berada dalam garis perjalanan migrasi masyarakat purbakala di nusantara yang datang melewati, Cina Selatan (Tonkin), melalui Phinipina terus ke Sulawesi Utara.

MASA Pra-ISLAM

Sejarah Ternate pada masa pra-Islam masih belum dapat dijelaskan secara panjang lebar, kecuali dalam aspek adat-istiadat dan kepercayaan yang hingga kini masih dihayati oleh sebahagian masyarakat Ternate, yang dapat kita jadikan petunjuk yang meyakinkan bahwa semasa pra-Islam, Ternate telah mempunyai sejarah sendiri. Peninggalan Ternate pada zaman pra-Islam tidak ditemukan dalam bentuk tulisan maupun artevak.

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel-artikel sebelumnya bahwa belum agama Islam masuk, di Ternate telah terdapat 4 kelompok masyarakat, yaitu ;

1. Tubo, (yang mendiami kawasan puncak/lereng sebelah utara pTernate)
2. Tobona, (yang mendiami kawasan lereng sebelah selatan di Foramadiyahi).
3. Tabanga, (yang mendarat kawasan pantai bagian utara) dan
4. Toboleu. (yang menempati kawasan pesisir pantai timur di Ternate)

Masyarakat Ternate yang sejak dahulu sejak dari Raja pertama Kolano Cico alias Masyhur Malamo (1257) hingga Sultan yang ke-48 sekarang ini Sri Sultan Mudaffar Syah-II, telah mengalami perjalanan panjang yang merupakan mata rantai kelangsungan sebuah komunitas yang tentunya dikikis dan dipoles oleh jaman yang dilaluinya hingga saat ini Ternate menjadi pusat pemerintahan Propinsi Maluku Utara.

PERAN KESULTANAN

Setiap pembahasan mengenai sejarah daerah Maluku Utara “the history of Moluccas” pada umumnya berkisar pada sejarah kesultanan yang pernah berkuasa di daerah ini. Sejarah telah mencatat, bahwa telah lama ada, empat kesultanan yang dikenal dengan “Moloku Kiye Raha” yang terdiri dari; ”Kiye Bessi, Tuanane, Duko, se Gapi”. Kiye Bessi kemudian bergeser ke Kasiruta di Bacan, Tuanane kemudian bergeser ke Halmahera di Jailolo, Duko adalah Tidore dan Gapi adalah Ternate.

Keempat kerajaan tersebut kemudian dikenal dengan; Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan. (urutan menurut Naidah yang ditulis P. van der Crab, “Geschiedenis van Ternate, in Ternataanschen en Maleischen text beschreven door den Ternataan Naidah”, Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde, The Hague, 1878).

Sumber-sumber asing lain-pun menyebutkan adanya keempat kesultanan tersebut, Portugis misalnya memberikan urutan yang sama, yang merupakan petunjuk bahwa, bahan sumber data dan informasi banyak diperoleh dari pihak Ternate, yang mana orang Portugis pertama kali mengadakan hubungan.

Tentu saja sumber-sumber dari luar Ternate akan memberikan urutan yang lain pula. Sebagai contoh misalnya, Francoise Valentijn (“Oud en Neew Oost Indien” S. Keijzer, Amsterdam, 1862), memberikan urutan kesultanan Jailolo pada urutan perrtama, kemudian beralih ke pihak Ternate, Tidore dan Bacan.

Sedangkan menurut kronik kesultanan Bacan, jelaslah bahwa kesultanan Bacan menduduki tempat pertama berdasdarkan klaim bahwa Raja Bacan pertama adalah putra tertua dari Jaffar Saddik, dengan urutannya; Bacan, Jailolo, Tidore dan Ternate. Bagaimanapun urutannya, yang lebih terpenting adalah bahwa semua sumber tersebut menyebutkan nama yang sama.

Besarnya pengaruh Globalisasi serta minimnya bahan-bahan dan tulisan tentang sejarah daerah Maluku Utara, mengakibatkan generasi muda masa kini, apatis terhadap pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya daerahnya sendiri. Dan lebih disayangkan lagi adalah semakin tajamnya egoisme primordial ke-suku-an antar masing-masing etnis yang ada di Maluku Utara dalam percaturan di bidang politik praktis tingkat lokal, memberikan efek negatif terhadap pelestarian nilai sejarah, adat dan tradisi dari masing-masing kelompok etnik.

LEMBAGA KEAGAMAAN

Semua lembaga dan jabatan yang diuraikan penulis pada pembahasan di atas disebut dengan “Bobato Dunia“. Bobato dunia adalah semua lembaga dan jabatan yang berhubungan dengan urusan ke-dunia-wian, yang bersifat politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan dan sebagainya. Sedangkan lembaga atau jabatan yang mengurus masalah keagamaan disebut dengan “Bobato Akhirat“.

Dari segi spirituil dan urusan keagamaan ditangani oleh suatu lembaga yang disebut dengan Jou Lebe (Badan Syari’ah). Lembaga ini dikepalai oleh seorang yang menjabat sebagai Kadhi. Anggotanya terdiri dari para Imam, Khatib dan para staf pelaksana. Para pejabat di bidang keagamaan terdiri dari :

1. Kadhi atau Kalem yaitu pejabat tertinggi dalam urusan keagamaan (Imam Agung), membawahi 4 orang Imam Besar Kesultanan, (ditambah Imam Jawa) yang terdiri dari :
• Imam Jiko
• Imam Jawa
• Imam Sangaji
• Imam Moti
• Imam Bangsa
2. Jabatan lainnya adalah para Khatib yaitu pejabat pelaksanan dakwah dan siar Islam dibawah Imam, terdapat 6 jabatan khatib dalam struktur kesultanan. Tiap khatib membawahi beberapa orang Modim (Muazzim). Keenam orang khatib tersebut, terdiri dari :
• Khatib Jiko
• Khatib Jawa
• Khatib Sangaji
• Khatib Moti
• Khatib bangsa
• Khatib Jurutulis

Dari para Imam dan khatib, serta para JOGURU (Kiyai dalam bahasa Jawa) inilah siar dan dakwah agama Islam ditegakkan ke seluruh pesisir jazirah Maluku Utara, sehingga saat ini hampir semua pesisir pulau-pulau di kawasan Maluku Utara, Sulawesi Utara, Pantai Timur pulau Sulawesi, Seram Barat, Kailolo, Hingga kepala burung pulau Papua (Fak-Fak, raja ampat, dsb) tersentuh akidah dan ajaran agama Islam.

Masyarakat Ternate tidak mengenal sistem “Pesantren” seperti halnya di Jawa. Cara pengajaran tradisional dengan Sistem Pesantren mulai diterapkan di Ternate pertamakali sekitar awal tahun 1980-an yakni dengan berdirinya pesantren pertama di Tidore.

Pendidikan Formal keagamaan pertamakali berdiri di Ternate pada tahun 1930-an dengan berdirinya Sekolah Madrasah Islamiyah di Ternate. Sekolah Raudatul Adab yang baru itu diasuh oleh seorang pendidik yang berasal dari pulau Ambon yang masih berdarah arab yaitu : Almarhum Syech Bachmid. Dua sekolah yang didirikan tersebut masing-masing setingkap dengan SD dan SMP. Kemudian berdiri pula Taman Pendidikan Muhammadiyah yang dipelopori oleh Bongso Hi Bahdar.

STRUKTUR KEPEMIMPINAN

Tiap kelompok masyarakat pada zaman pra-Islam di Ternate mendiami suatu tempat tinggal, yang mereka sebut dengan istilah Gam (Kampung), warganya terdiri dari beberapa keluarga/kerabat yang dalam istilah daerah disebut dengan sebutan Soa (Marga) yang dipimpin oleh seorang Fanyira, singkatan dari kata ‘Ngofa ma-nyira’. (Baca artikel terkait; Stratifikasi Sosial Masyarakat Adat di Ternate).

Selanjutnya masing-masing kepala Soa dipimpin oleh seorang Momole (Kepala Kampung) yang bergelar; Kimelaha, Fanyira dan Sangadji. Disamping sebutan untuk seorang kepala Soa untuk tiap-tiap Soa, kata momole terambil dari kata “Tomole“ yang mempunyai arti; Kesaktian atau Kehebatan, yakni orang yang menjadi pemimpin karena mempunyai kelebihan dan kesaktian dalam berbagai hal.

Kelompok masyarakat waktu itu masih menjalankan kepercayaan primitif, dan kadang-kadang sering terjadi pertentangan dan saling bermusuhan dalam hal memperebutkan hegemoni. Dengan demikian maka, di Ternate pada zaman pra-Islam terdapat 4 orang Momole. Seorang Momole diangkat berdasarkan kharisma yang ada padanya. Setelah masuknya agama Islam, maka sistem pemerintahan Momole berubah. Keempat Momole tersebut, bergabung dan dipimpin oleh seorang Kolano. Pada masa awal sistem ini, struktur kepemimpinan masih sangat sederhana.

Bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Ternate, maka berkembang pula sistem pemerintahan Kolano, seperti juga di Tidore, Bacan dan Jailolo. Ke-empat Kolano ini kemudian membentuk konfederasi persekutuan antara empat kerajaan tersebut di Taunane Pulau Moti (Moti Verbond), yang kemudian dikenal dengan sebutan persatuan “Moloku Kie Raha”. Ternate waktu itu dipimpin oleh Kolano ke-7, yang bernama Kolano Sida Arif-ma-Lamo yang dinobatkanpada tahun 1322 dan memerintah selama 9 tahun (1322-1331). Dalam sistem ini, struktur kepemimpinannya lebih disempurnakan. (F.S.A. de Clerq).

Pada perkembangannya selanjutnya , sejak tahun 1486, disaat penobatan Kolano ke-19, Zainal Abidin, yang pertama kali memakai gelar “SULTAN” yang memerintah dari tahun 1486 – 1500, adalah merupakan masa peralihan dari bentuk Kolano ke bentuk Kesultanan. Beliau diberi gelar ; Paduka Sri Sultan Zainal Abidin.

Dalam struktur kepemimpinan kesultanan, dibentuk lembaga-lembaga tradisional. Pelaksanaan tugasnya, Sultan dibantu oleh badan-badan dan pejabat seperti :

1. KOMISI NGARUHA, (fungsinya disamakan dengan Dewan Pertimbangan Agung).

2. BOBATO MA-DOPOLO, yaitu suatu Dewan Pembantu Sultan, anggotanya terdiri :
a. Jogugu, sebagai wakil Sultan merangkap kepala Bobato. Jogugu adalah singkatan dari ‘Jou Kolano ma-gugu’ yaitu wakil Sultan bidang Pemerintahan , yang berkuasa dan bertanggung jawab atas seluruh kebijakan kesultanan tertinggi dibawah Sultan, yang dijabat oleh bangsawan Senior di kalangan kerabat keluarga terdekat Sultan. (disamakan dengan Perdana Menteri).
b. Kapita Lao, yang bertanggung jawab dalam masalah yang bertalian dengan peperangan, yang dijabat oleh bangsawan Senior di kalangan kerabat Sultan. (disamakan dengan Panglima Armada Laut).
c. Hukum Soa Sio, adalah seorang pejabat yang bertanggung jawab dan menangani hal-hal yang berhubungan dengan urusan di dalam negeri. (disamakan dengan Menteri Dalam Negeri).
d. Hukum Sangadji, adalah seorang pejabat yang bertanggung jawab dan menangani masalah-masalah luar negeri termasuk daerah takluk-kan. (disamakan dengan Menteri Luar Negeri).
e. Tuli Lamo, sebagai juru tulis kesultanan, (disamakan dengan Menteri Sekretaris Negara).

3. BOBATO NYAGI MOI SE-TUFKANGE, yaitu Dewan 18 yang anggotanya terdiri dari delapan belas Orang. Mereka terdiri dari :
a. Berasal dari Soa-Sio sebanyak 9 orang, yaitu :
1) Pejabat berpangkat Kimelaha, sebanyak 5 orang.
2) Pejabat berpangkat Fanyira, sebanyak 4 orang.
b. Berasal dari Pejabat berpangkat Sangaji, sebanyak 9 orang, yang merupakan wakil utusan dari wilayah seberang.

Dalam struktur kepemimpinan tradisional di kesultanan Ternate, terdapat semacam Dewan Rakyat, yang disebut dengan GAM RAHA, yang wakilnya terdiri dari pejabat perwakilan keempat wilayah yang terdiri dari :

1. SOA-SIO, (Komunitas masyarakat yang terdiri dari 9 kelompok Soa/distrik yang berada di di wilayah pusat Kesultanan).
2. SANGADJI, (Komunitas beberapa distrik di negeri seberang/wilayah taklukkan).
3. HEKU, (Komunitas masyarakat Ternate yang wilayahnya mulai dari Ake Santosa (sekarang Kelurahan Salero) ke utara hingga ke pulau Hiri termasuk Halmahera muka).
4. CIM, (Komunitas masyarakat dari Ake Santosa ke salatan hingga mencapai batas desa Kalumata).

Gam Raha berfungsi mensahkan calon sultan yang menurut tradisi ditunjuk atau dipilih untuk dijadikan calon adalah dari anak-anak lelaki putera sultan, (bukan putra tertua saja tapi bisa adik-laki2-nya). Jika dalam garis pertama ini tidak ditemukan, maka bisa bergeser ke anak2 dari kakak sultan atau anak2 dari adik sultan (ponakan), bahkan bisa saja langsung lompat ke cucu sultan (sesuai catatan sejarah silsilah para raja2 di Ternate). Meskipun telah ditetapkan adat, calon Sultan itu harus disahkan oleh Gam Raha. Calon diajukan oleh pihak Soa-Sio dan Sangaji, selanjutnya apabila calon tersebut ditolak oleh pihak Heku dan Cim, maka harus diganti. Penobatan soerang Sultan (pemasangan mahkota pertama kali) dilakukan oleh pejabat Kimalaha Marsaoly. Sistem ini merupakan keunikan dan cirri khas “Demokrasi” ala Ternate, dimana sistem pemerintahan adalah berbentuk Monarki tetapi pewaris kekuasaan dilakukan melalui pemilihan/penunjukan dari “Gam Raha” berdasarkan kriteria tertentu. Tidak seperti biasanya setiap kerajaan, putera tertua dari Raja dan Permaisuri mutlak harus menjadi pewaris takhta.

Pemahaman dan anggapan orang Ternate terhadap sultannya adalah seorang “Kolano” dalam arti khusus. Kolano adalah seorang “Khalifahtur rasyhid wa tubaddir Rasul”, dengan sapaan Syailillah yang menurut mereka adalah figur bukan sembarang orang karena dalam diri seorang Kolano terdapat “nur-Muhammad” yang ditadzali ke dalam jasad/tubuh seorang yang dipilihNYA yang dalam hal ini seorang sultan yang masyarakat menyapanya dengan “Jou Kolano” atau “Jo-Ou“.

Pejabat penting lainnya yang dalam kepemimpinan wilayah adalah seorang Salahakan. Pejabat ini adalah merupakan perwakilan Sultan di daerah-daerah otonomi yang jauh. Dalam sejarah Ternate, pernah diangkat Salahakan di Tabukan (Sangir Talaud), Banggai (Sulawesi), Sula Taliabu. Selain Salahakan dikenal juga Utusan Sultan yang dikirim ke perbatasan untuk menangani soal keamanan. Ia juga bertugas sebagai koordinator para sangaji di daerah itu.

Diketahui pernah ada tiga utusan yang pernah ditetapkan dalam kesultanan Ternate, yaitu; Utusan Kayoa yang berbatasan dengan kesultanan Bacan, Utusan Galela untuk mengamankan perbatasan dengan kesultanan Mindanao-Sulu, Utusan Dodinga untuk mengawasi perbatasan wilayah darat dengan kesultanan Tidore di daratan pulau Halmahera.

SEJARAH PEMERINTAHAN

Dalam sejarah kepemimpinan/pemerintahan di Ternate, selain dipimpin oleh para Kolano/Sultan sebanyak 48 orang Raja Ternate, masyarakat Ternate pernah diperintah oleh pejabat penguasa asing yang berkedudukan di Ternate, tercatat sebanyak 20 orang pejabat Gubernur Portugis (1512-1574), 7 orang pejabat sebagai Residen perwakilan Inggris di Ternate (1797-1815), 53 orang pejabat Gubernur VOC untuk wilayah Maluku yang berkedudukan di Ternate, dan lebih dari 28 orang pejabat Residen Pemerintah Kerajaan Belanda yang juga berkedudukan di Ternate. (Sumber; F.S.A. de Clerq).
Kronologis Pemimpin Pemerintahan di Ternate selama 7 Abad lebih diuraikan pada artikel sesudah ini.



Perjalanan panjang sejarah masyarakat Ternate yang hingga kini telah berusia 758 tahun melalui dinamika dengan begitu banyaknya proses asimilasi budaya dan campur tangan kekuasaan dari luar terutama bangsa Eropa selain para Sultannya mengakibatkan kebudayan masyarakat Ternate memiliki ciri khasnya tersendiri.

Kedatangan orang Eropa ke berbagai tempat di belahan bumi ini membawa tiga Misi utamanya, yaitu ; “Gold”, “Gospel” dan “Glory”. Warisan yang paling nyata hingga saat ini adalah pada kawasan tertentu di Maluku Utara masih terdapat pemeluk agama Nasarani sebagai bukti adanya Gospel yang didengungkan bangsa Eropa waktu itu, sedangkan kehadiran Islam di daerah ini juga sebagai akibat adanya hubungan dengan para pedagang dari bangsa Arab dan Persia maupun dari Gujarat.

Dinamika yang dialami masyarakat Ternate hingga generasi sekarang melalui proses yang panjang. Para pendahulu di daerah ini telah meletakan dasar, baik itu menyangkut keyakinan beragama, maupun sendi-sendi moral dan etika serta perilaku yang tercermin dalam adat-istiadat, tradisi dan budaya yakni tersirat dalam institusi dan pranata sosial di masyarakat Ternate. Sebagai generasi saat ini, wajarlah kalau memiliki minat dan keinginan di bidang kajian sejarah, karena lebih banyak manfaat yang didapat daripada tidak mengetahuinya sama sekali. (Baca artikel tentang kajian dimaksud pada posting sebelumnya; Sejarah Tidak Pernah Berdusta.


http://ternate.wordpress.com/2008/01/22/menelusuri-asal-usul-dan-jejak-sejarah-orang-ternate/

Recen Post

Lencana Facebook